ARUNIKA II

Arunika, begitu Aku menyebutnya. Dia merupakan sesosok Wanita berparas cantik dan sangat misterius yang berhasil membuatku jatuh hati, dia juga memiliki kehidupan yang unik.

Oke, kita lanjutkan kembali cerita tentang kisah antara Aku dan Arunika yang menurutku cukup rumit namun menarik untuk diceritakan.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun kehidupan Aku dan dia pun berjalan dengan berbagai hal yang kami lewati masing-masing, Aku dengan kehidupanku bersama keluarga, teman, sahabat dan lain-lain, dan dia dengan kehidupan dia bersama keluarga, teman, sahabat dan tunangannya itu.
Kami sangat jarang sekali bertatap muka atau hanya sekedar bertegur sapa, entah karena memang bukan waktunya untuk bertemu pada waktu itu, padahal jarak rumah kami tidak terlalu jauh, ya walaupun jarak tempat kerja kami sangat berjauhan.
Saat itu dia sedang bekerja disebuah perusahaan startup namun Aku tak tahu posisi dia di kantor itu sebagai apa, dia dirumah merupakan seorang yang cukup dingin dan pendiam, namun ketika di kantor dia sangat berbeda sekali apalagi ketika dia sedang bersama sahabat-sahabatnya dia berubah menjadi seorang yang periang. Aku mengetahui itu memang tidak secara langsung tapi hanya dari unggahan-unggahan di media sosialnya saja, ya walaupun itu tidak bisa dikatakan 100% benar karena Aku tidak melihatnya secara langsung tapi Aku melihat sosok yang berbeda dari dia yang ketika selama kita bertemu tidak pernah terjadi.

Oh iya Aku lupa, sebenarnya sebelum dia bertunangan itu ada proses perpindahan rumah dahulu dari rumah yang pertama kali ditempati ketika dia dan keluarganya berpindah ke Bogor, ke rumah dia yang baru, walaupun secara lokasi jaraknya tidak terlalu jauh antara rumah yang dulu dan rumah yang baru, tapi secara administrasi itu sangat jelas jauh dari mulai Desa, Kecamatan, bahkan dari Pemerintahan Daerah.
Dirumah yang baru itulah dia melangsungkan pertungan dengan pacarnya yang entah sudah berapa tahun dia berhubungan karena dia orang yang sangat tertutup untuk masalah hubungan dengan lawan jenis bahkan terhadap keluarganya pun dia tidak pernah bercerita, dia mulai bercerita tentang hubungannya itu ketika sudah mendekati waktu pertunangan dengan pasangannya.
Rumah yang baru itulah yang menjadi saksi hari bahagia dia dengan pasangannya, selain itu ada Aku dan yang lain menjadi saksi hidupnya pada saat itu.

Baiklah, kita lewati cerita tentang pertungan dia dan pasangannya, alangkah baiknya kita lanjutkan saja cerita setelah proses pertunangan itu yang memang sudah lewat beberapa tahun.
Suatu hari, saat itu keadaan sedang hujan dengan intensitas yang tidak terlalu deras tapi mampu membuat tubuh basah kuyup kalau kita berada diantara rintiknya. Aku berada dirumahnya saat itu dari sekitar pukul sepuluh pagi, sambil menikmati kopi dan beberapa batang rokok dihalaman depan rumahnya sampai kira-kira setelah habis dzuhur, Aku lupa jam berapa saat itu. Tidak lama hujanpun mulai menyisakan rintikan gerimis yang tidak begitu besar, Aku pun bersiap-siap untuk berangkat karena saat itu akan menghadiri sebuah acara, tapi aku lupa acara apa itu.
Ketika Aku sudah siap untuk keluar mengambil motor, tiba-tiba dia keluar dari dalam rumah dengan adik pertamanya sambil membawa payung berwarna biru muda, Aku ingat sekali pada waktu itu dia memakai baju berwarna putih bergambar anjing dan memakai celana pendek selutut berwarna biru tua dengan motif bunga-bunga dan adiknya memakai baju berwarna kuning polos dan celana pendek berwarna merah dan tidak bermotif. Ketika itu kita sempat saling bertatapan mata dan itu merupakan kali pertama kita saling bertatapan agak lama, lalu tak lama dari itu dia langsung tertawa dan keluarlah sebuah kalimat dari mulut manisnya yaitu "A, mirip si marsha dina film kartun marsha & the bear", setelah dia mengeluarkan kalimat itu dia lanjut tertawa dan adiknyapun ikut tertawa sambil berkata "Parah siah si teteh mah eh culangung" (Parah ih si teteh, gak sopan), dia berkata seperti itu mungkin karena melihat aku memakai sebuah buff dikepala yang dibentuk mirip kerudung si marsha mungkin.
Pada saat kejadian itu Aku hanya bisa tersenyum lalu bertanya pada mereka berdua "Rek kamarana atuh hujan-hujan kieu?" (Mau pada kemana hujan-hujan gini?), dan mereka berdua menjawab "Rek jajan, A" (Mau jajan, A), lalu adiknya menambahkan kalimat "Rek ngilu moal A, hayu?" (Mau ikut enggak A, ayo?) sambil menggerakkan tanggan kanannya untuk mempertegas ajakannya kepadaku, sedangkan dia hanya diam sambil melemparkan sebuah senyuman tipis dari bibir manisnya itu, mungkin dia masih berada di momen marsha & the bear tadi sehingga belum bisa lepas dari kelucuaan itu. Merekapun berlalu untuk pergi ketempat jajanan tersebut, entah mereka mau jajan apa karena Akupun tidak terlalu banyak bertanya, dan setelah mereka berlalu Akupun bergegas mengambil motor lalu segera berangkat karena takut hujan kembali deras.

Hari-haripun berganti, Aku mulai sering datang ke rumahnya walau kadang hanya untuk sekedar berkunjung saja atau ada hal yang harus dibahas dengan Orang Tuanya. Suatu ketika ada momen yang cukup mengejutkan, saat itu malam hari dan cuaca sedang syahdu-syahdunya karena malam itu hujan rintik-rintik tak berhenti dari siang hari. Aku berada dirumahnya dari mulai sore hari karena ada hal yang harus dibicarakan dengan Orang Tuanya, ketika sedang asik ngobrol, sekitar pukul 21.00 dia tiba dirumahnya dengan keadaan basah kuyup karena menerjang hujan dari stasiun sampai rumahnya.
Saat itu memang sedang musim penghujan, entah dia lupa tidak membawa jas hujan atau memang sengaja tidak membawanya, atau membawa jas hujan tapi malas untuk memakainya. Setelah tiba didepan rumahnya dengan keadaan badan yang basah, dia bergegas masuk kedalam rumah tanpa basa basi bahkan tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan padahal saat itu ada Aku, Orang Tuanya dan beberapa orang lagi, dia langsung masuk ke kamarnya yang saat itu posisinya masih berada dibawah, ya memang kebiasaan dia dari dulu seperti itu sih, kalau lewat ya lewat saja tanpa memperdulikan apa yang ada disekitarnya. Setelah sekitar 15 menitan dia keluar dari kamarnya dengan menggunakan kaos belel berwarna putih bergambar kartun dan celana pendek hitam bermotif bunga, lalu dia pergi ke dapur yang posisinya memang tidak jauh dari posisi kamarnya hanya untuk sekedar mengambil minum dan beberapa makanan yang dia beli ketika dia dijalan pulang tadi.
Setelah dia dari dapur, Aku kira dia akan langsung masuk lagi ke kamarnya seperti biasa dan ternyata perkiraanku salah pada saat itu, dia langsung duduk tepat disebelahku dan ikut menyimak percakapan kami. Ini untuk pertama kalinya Aku menyaksikan dia mau ikut berkumpul dengan kami, ketika ada guyonan diantara obrolan kami, dia sesekali melemparkan senyumnya yang manis itu padahal Aku dan yang lain bisa sampai tertawa lepas, mungkin menurut dia guyonan itu memang tidak terlalu lucu kali ya. Aku paham sih selera humor tiap orang berbeda-beda, apalagi untuk orang yang super diam seperti dia mungkin agak sulit untuk tertawa terbahak-bahak.

Waktu berlalu dan malam semakin larut, dan langit masih saja menyiramkan rintiknya walaupun hanya sekedar gerimis yang lumayan bisa membuatku basah kuyup jika memaksakan untuk menerjangnya bila sampai ke rumahku. Kita semua masih asik mengobrol, dan dia masih bertahan berada disampingku. Terkadang sesekali dia menoleh kearahku walaupun lebih banyak menundukkan kepalanya karena dia asik dengan handphonenya, mungkin dia sedang chattingan dengan tunangannya itu sampai lupa ada kami diantara dia yang sedang asik ngobrol juga. Aku dan dia memang sangat jarang sekali bertegur sapa bahkan ketika sedang bertatap muka, tapi pada malam itu entah apa yang sedang merasuki dirinya hingga dia mau melemparkan beberapa pertanyaan kepadaku, walaupun jujur Akulah yang memulai melempar pertanyaan kepada dia walau hanya sekedar pertanyaan basa basi saja. Terkadang dia menjawab beberapa pertanyaanku dengan singkat, padat, dan jelas dan sambil tetap menatap layar handphonenya, walau kadang sambil menatap mukaku juga sih tapi itu jarang sekali.
Malam semakin larut dan langitpun sudah mulai menghentikan kesenduannya, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 00.25, Akupun sudah mulai merasakan kantuk dimataku, Aku berinisiatif untuk mengakhiri percakapan dan berniat untuk berpamitan pulang, lalu yang lainpun mengamini ideku itu untuk segera mengakhiri percakapan tersebut.
Akupun mulai berpamitan kepada Orang Tuanya, dilanjutkan berpamitan dengan yang lain, tak lupa juga Aku berpamitan sama dia, tanpa bersalaman seperti kepada Orang Tua dan yang lainnya. Ketika Aku mengucapkan kalimat berpamitan seperti yang sudah Aku bayangkan dia menjawab hanya satu kata saja yaitu "Iya", dan itu bukan hal yang aneh bagiku.

Setelah selesai berpamitan dengan dia dan yang lainnya, Akupun bergegas keluar dari rumahnya menuju tempat parkir untuk mengambil motorku yang berada tepat dibelakang rumahnya. Tanpa basa basi Akupun segera menancap gas motorku agar cepat sampai ke rumah karena kantuk sudah menyerang semakin brutal.
Kejadian malam itu masih terekam jelas dibenakku sampai saat ini karena untuk pertama kalinya melihat dia mau ikut berkumpul dan ngobrol denganku dan yang lainnya walau hanya sesekali melempar kata.
...Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ARUNIKA

ARUNIKA IV

ARUNIKA V