ARUNIKA III

Arunika, begitu Aku menyebutnya. Dia merupakan sesosok Wanita berparas cantik dan sangat misterius yang berhasil membuatku jatuh hati, dia juga memiliki kehidupan yang unik.

Kita lanjutkan kisahnya.
Setelah berlalu beberapa bulan dari kejadian unik dan fenomenal yang mengejutkan itu, Aku dan teman-teman yang lain berencana untuk berkumpul sambil masak-masak (Ngaliwet) di Villa milik Orang Tuanya. Kegiatan seperti ini memang sering kami lakukan ketika kami sedang sama-sama memiliki waktu luang, sebenarnya kebanyakan pas weekend sih.

Oiya sebelum lanjut ke cerita, Aku ingin sedikit menjelaskan tentang villa tersebut. Villa itu dibeli oleh Orang Tuanya setelah pindah ke Bogor, ya walaupun rentang waktunya agak lama dari pertama mereka sekeluarga pindah ke Bogor sampai membeli villa tersebut.
Orang Tuanya senganja membeli villa itu awalnya hanya untuk sekedar mencari ketenangan diantara hiruk pikuk dan riuhnya kota (Kalau aku menyebutnya 'Niis'), seiring berjalannya waktu Orang Tuanya mendirikan sebuah perkumpulan, dan dari perkumpulan itulah Aku kenal dengan Orang Tuanya dan villa tersebut dijadikan Base Camp untuk tempat kami melakukan kegiatan yang berhubungan dengan perkumpulan tersebut. Waktu itu memang tempatnya sangat sederhana sekali, tapi nyaman, sejuk dan tentram karena berada ditengah-tengah sebuah perkebunan. Jarak dari rumahnyapun tidak terlalu jauh hanya sekitar 2-3 KM saja dan aksesnya pun bisa dilalui kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

Oke kita kembali ke alur. Pada saat itu memang tepat hari minggu, waktu itu kira-kira sekitar pukul 09.00 Aku tiba lebih dulu ke villa bersama beberapa teman karena harus mempersiapkan keperluan selama kami berkumpul disana.
Sekitar pukul 10.00, Orang Tua dan kedua adiknya tiba di villa tersebut tapi dia tidak ikut padahal hari itu dia libur kerja juga. Seperti biasa dia asik dengan dunianya di dalam kamar sendirian, entah apa yang dia lakukan, tapi yang pasti dia bisa bertahan berlama-lama sendirian di dalam kamar.
Sekiranya waktu sudah menunjukkan pukul 11 lebih dan semua masakkan sudah matang dan siap dihidangkan, Aku dan beberapa teman dibantu Orang Tuanya juga membantu menyiapkan hidangan tersebut.
Setelah beberapa saat akhirnya hidangan itupun sudah tersaji dengan rapi, kami semua segera menyantap hidangan yang sudah tersedia sebelum semuanya menjadi dingin sedingin dia... Hehehe. Setelah semuanya selesai mengisi perut kami lanjutkan ngobrol-ngobrol santai sambil ngopi, ketika ditengah-tengah obrolan kami, terdengar suara kendaraan roda dua yang datang dan berhenti diparkiran villa, sontak hampir semua pandangan yang sedang asik mengobrol menuju ke parkiran untuk memastikan siapa yang tiba di villa tersebut. Dan ternyata sesosok wanita cantik datang yaitu dia Sang Arunika, salah satu hal yang mungkin unik juga dari dia mau datang ke villa keluarganya ketika sedang banyak orang disana. Dia berjalan gontai dari parkiran menuju tempat kami berkumpul, masih seperti biasa dengan wajah datar yang tanpa ekspresi sedikitpun, dia segera menghampiri keluarganya lalu duduk dan berkata "Lapar Mah", sontak Ibunya menjawab "Nya makan atuh, Téh!, nyiukan wé sorangan" (Ya makan atu, Téh!, ngambil sendiri). Saat itu memang posisi tempat nasi berada didekatku, dengan sedikit rasa malas dia bangun dari tempat duduknya, mengambil alat makan lalu menghampiriku untuk mengambil nasi.
Disini kejadian unik terjadi lagi, biasanya tanpa basa basi sedikitpun dia lewat dan tidak memperdulikan apa yang ada disekitarnya, tapi saat itu dia mengeluarkan beberapa kalimat dengan nada yang sedikit rendah "A, maaf! mau ngambil nasi". Sontak aku terkejut dan sempat terdiam, lalu tersadar kembali sambil berucap "Silahkan, Téh."

Sebelum lanjut izinkan Aku sedikit menjelaskan kenapa Aku memanggil dia dengan panggilan "Téh". Begini, dari awal kita kenal Aku selalu memanggilnya dengan panggilan "Téh, atau Tétéh" padahal umurnya masih dibawah Aku, alasannya tidak lain dan tidak bukan karena dia merupakan anak paling tua dari tiga bersaudara, dan sebagai bentuk penghormatanku kepada dia. Dan diapun asik-asik saja ketika Aku panggil dengan sebutan itu, tak ada rasa keberatan atau penolakan sedikitpun. Begitu ceritanya.

Baik kita lanjut lagi ke benang merah.
Setelah dia mengambil nasi dan beberapa lauk pauk sebagai teman nasi untuk dia santap, dia berlalu menuju tempat duduknya tadi yang berada diantara keluarganya. Seperti biasa dia kembali ke setelan pabrik, dengan wajah datar yang tanpa ekspresi dia berlalu melewatiku seolah-olah Aku tak pernah ada disitu.
Aku tak pernah mempersoalkan hal itu karena sudah tahu karakter dia yang dingin seperti es yang berada di kutub utara, Aku kembali melanjutkan obrolan bersama yang lain termasuk dengan Orang Tuanya, sedangkan dia asik bergelut dengan hidangan yang tersedia diatas piring yang tadi dia ambil sambil sesekali melihat handphone miliknya. Entah apa yang dia lihat dihandphonenya tersebut, Aku tak peduli sama sekali karena sedang asik bersendau gurau dengan yang lain.
Waktu terus berlalu layaknya debu yang dihempaskan angin, tak terasa ternyata dia sudah menghabiskan hidangan yang tadi tertata disebuah piring yang dia ambil, dia beranjak kembali dari tempat duduknya dan berlalu melewatiku untuk menyimpan piring ditempat yang sama seperti Aku dan yang lain menyimpannya, lalu dia meneruskan langkahnya menuju kamar mandi dengan tujuan untuk mencuci tangan. Setelah menyelesaikan ritual mencuci tangan, dia berlalu kembali melewatiku menuju tempat duduk, kali ini dia duduk agak sedikit berbeda dari sebelumnya karena tepat berada didepanku. Sambil duduk dia kembali fokus dengan layar handphonenya tanpa sepatah katapun yang keluar dari bibir manisnya, selang waktu beberapa menit, terjadi satu kali lagi kejadian langka, tiba-tiba saja dia melontarkan sebuah pertanyaan kepadaku "A, ieu nu masak saha?" (A, ini yang masak siapa?), Akupun terkejut kembali dan kembali sejenak terdiam, dengan sedikit senyum akupun sontak menjawab "Oh, éta biasa Bu Ida, Téh", lalu diapun kembali menimpali pertanyaanku " Oh, Bu Ida! Énaknya, A", sambil terheran-heran akupun kembali menjawab "Pasti atuh Téh, Bu Ida mah The Bestlah soal masak-memasak mah" sambil sedikit menyelipkan tawa kecil diantara kalimat tersebut. Masih berada dikeadaan terheran-heran Aku dan dia melanjutkan percakapan yang lumayan panjang, hal yang tak pernah terjadi selama kita saling kenal. Setelah percakapan kami berakhir tiba-tiba saja muncul sebuah pertanyaan konyol dikepalaku "Aya angin naon ieu budak daék ngobrol jeung Uing? (Ada angin apa tiba-tiba anak ini mau ngobrol sama Aku?), Akupun menjawab sendiri pertanyaan itu "Keur alus meureun moodnanya makana daék ngobrol" (Sepertinya moodnya lagi bagus makanya mau ngobrol juga), setelah percakapan kami berhenti dia fokus kembali ke layar handphonenya, dan akupun melanjutkan sendau gurau bersama yang lain.
Tak lama setelah itu, dia berpamitan kepada Orang Tuanya untuk kembali lagi ke rumahnya dan berlalu begitu saja.

Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 20.30, kami semua bahu membahu membereskan bekas kami makan tadi, setelah semua dibereskan, kamipun bersiap-siap untuk kembali ke rumah masing-masing, dan saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 21.00.
Kami semua berjalan menuju parkiran dan mengambil motor masing-masing, layaknya club motor yang mau touring, kami berlalu dari villa tersebut beriringan namun didalam otakku masih menyimpan keheranan atas kejadian tadi sampai aku bawa kerumah. Setibanya dirumah, aku masih saja memikirkan hal itu karena masih tak habis pikir seseorang seperti dia bisa bercakap-capak dengan durasi yang lumayan lama denganku.
Aku berada disudut kamarku yang sedikit gelap karena pencahayaan hanya dari lampu tidur saja, pikiran itu masih menggerogoti isi kepalaku sampai tak terasa malam sudah mulai larut, dengan kedaan yang sadar akupun memutuskan untuk segera memejamkan mataku dan menyimpan keheranan itu didalam benakku saja.
...Bersambung... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ARUNIKA

ARUNIKA IV

ARUNIKA V