ARUNIKA IV
Arunika, begitu Aku menyebutnya. Dia merupakan sesosok Wanita berparas cantik dan sangat misterius yang berhasil membuatku jatuh hati, dia juga memiliki kehidupan yang unik.
Mari lanjutkan lagi cerita tentang kisah Aku dan Arunika yang lumayan rumit ini.
Waktu terus berjalan, setelah kejadian di villa itu kita masih saja jarang bertemu apalagi untuk sekedar berkomunikasi. Ya sebenarnya kalaupun bertemu kita mau ngapain sih, kalaupun berkomunikasi juga apa yang mau diobrolkan dengan orang yang dingin seperti dia, iya kan? Hehehe.
Waktu terus berjalan sesuai takdirnya, bumipun masih berputar pada porosnya, Aku dan dia masih saja sama tak pernah lancar berkomunikasi dan bahkan sangat jauh untuk menjadi akrab.
Saat itu sekitar bulan Desember, bulan dimana cuaca sedang dingin-dinginnya dan basah-basahnya.
Disebuah sore waktu itu Aku sedang berada dirumahnya, sambil menunggu teman-teman yang lain Aku duduk didepan rumahnya sambil menikmati segelas kopi dan sebatang rokok dan ditemani rintik hujan di bulan Desember sambil ngobrol tipis-tipis dengan Orang Tuanya, tiba-tiba saja dia datang bersama motor merahnya. Kali ini dia menggunakan jas hujan berwarna hijau dan helm bogo berwarna coklat, tubuhnya tidak basah tapi mukanya tetap saja bercucuran air hujan karena kaca helm yang dia gunakan tidak dia turunkan sehingga air hujan itu langsung menyentuh ke mukanya yg cantik itu. Setelah dia melepas helm dan jas hujannya tersebut, dia langsung melangkah gontai melewati Aku sambil berkata "Maaf, A", Akupun kembali terkejut dan sempat berkata dalam hati "Bisaeun ménta maaf gening budak téh" (Ternyata bisa minta maaf juga ini anak) sambil sedikit tertawa tapi masih dalam hati juga, diapun berlalu masuk kedalam rumahnya dan Aku tak terlalu memperhatikannya lagi setelah itu.
Setelah beberapa lama, tiba beberapa orang teman yang sejak dari tadi kami tunggu. Seperti biasa kami bertegur sapa dan bersalaman layaknya orang normal ketika bertemu, lalu Orang Tuanya menyuruhku untuk membuatkan kopi untuk teman kami yang baru datang tersebut.
Sebenarnya Aku tak tahu kenapa dipanggil dan disuruh berkumpul dirumahnya pada waktu itu, karena memang Aku tak pernah banyak bertanya ketika disuruh datang ke rumahnya oleh Orang Tuanya. Dalam rentang waktu tersebut, kami masih sama seperti ketika ngumpul diwaktu sebelum-sebelumnya yaitu ngobrol ngalor-ngidul dan diselipkan beberapa candaan untuk menghangatkan suasana yang memang sedang dingin pada saat itu. Kami masih menunggu dua orang teman lagi yang masih dalam perjalanan, karena memang mereka yang lumayan jauh jaraknya dengan tempat kami berkumpul tersebut.
Langit sudah semakin gelap tapi hujan masih saja mengguyur bumi ini, dan dari beberapa mesjid mulai terdengar suara Adzan berkumandang maka itu menandakan sudah memasuki waktu Maghrib.
Beberapa dari kami khususnya laki-laki segera beranjak dari tempat duduk seraya bergegas ke mesjid terdekat untuk segera melaksanakan Shalat Maghrib berjama'ah. Setelah kami melaksanakan shalat maghrib berjama'ah dimesjid tersebut, lalu kami berjalan kembali menuju rumahnya, setibanya kembali dirumahnya, Aku segera mengambil gelas yang masih ada sisa-sisa kopi dari sore dan mengambil satu batang rokok untuk Aku bakar dan Aku hisap lalu melanjutkan kembali obrolan yang sempat tertunda, tapi kali ini kami semua berpindah posisi yang awalnya didepan rumahnya sekarang berpindah ke dalam tepatnya di ruang tamu yang merupakan tempat biasa kami berkumpul juga.
Ditengah-tengah obrolan, terdengar suara kendaraan roda dua yang berhenti didepan rumahnya itu, kamipun menghentikan sejenak obrolan kami karena ingin tahu siapa yang datang pada saat itu. Setelah beberapa menit terdengar suara salam dari luar, dan ternyata yang datang tersebut adalah dua teman kami yang dari tadi sudah kami tunggu kehadirannya.
Akhirnya, sekitar pukul 19.30 atau ba'da Isya waktu itu, kami memulai kembali obrolan yang menuju ke pembahasan selanjutnya. Aku ditunjuk untuk membuka forum tersebut yang dimana akupun tak tahu bahasan apa yang akan dibahas diforum tersebut sampai akhirnya diberikan info oleh Orang Tuanya. Dan ternyata kita membahas untuk acara malam tahun baruan di villa milik Orang Tuanya, masing-masing dari kami semua memberikan pandangan, ide dan gagasan sesuai dengan apa yang ada didalam kepala kami, walaupun tidak semuanya memberikan masukkan tapi setidaknya ada beberapa masukkan yang bisa dijadikan bahan pertimbangan.
Ditengah-tengah obrolan kami itu, tiba-tiba saja dia keluar dari kamarnya lalu menuju ke dapur, seperti biasa tanpa menghiraukan apa yang ada disekitar dia. Dia berlalu layaknya daun yang terbawa arus dan gelombang, selesai mengambil sesuatu dari dapur, dia kembali berjalan ke arah kami yang sedang asik ngobrol seraya membahas untuk acara malam tahun baru, setibanya dia didekat kami, Aku kira dia akan kembali masuk ke kamarnya seperti biasa, tapi ternyata tidak, dia duduk tepat diantara Orang Tuanya dan berhadapan langsung dengan Aku. Kala itu dia menggunakan kaos berwarna biru muda bergambar apa Aku lupa dan memakai celana jeans pendek berwarna biru tua sambil membawa segelas minuman dan tak lupa handphone juga.
Kami asik ngobrol dan membahas segala hal untuk acara nanti di malam tahun baru, dan dia pun asik nunduk memperhatikan layar handphonenya. Tak lama kemudian kedua adiknya keluar dari kamar dan ikut bergabung dengan kami, tak lupa merekapun ikut memberi masukan untuk acara tersebut. Saling lempar pertanyaan dan jawabanpun terus berlangsung, tiba-tiba saja dalam kepalaku tercetus sebuah ide untuk bertanya kepada dia dan tanpa basa basi akupun langsung mengeluarkan kalimat tanya itu kepada dia "Téh, kumaha aya ide teu?" (Téh, gimana ada ide ga?), dia pun dengan dinginnya menjawab "Ga ada, sok aja". Karena mendengar jawaban yang seperti itu, Akupun bingung dan kehabisan kata, apa lagi yang harus ditanyakan sama dia jika jawabannya seperti itu, Aku tak ambil pusing lalu kembali mengobrol dengan yang lain. Ketika Aku sedang asik ngobrol dengan yang lain, muncullah lagi satu ide diotakku untuk melemparkan sebuah pertanyaan untuk dia "Oh enya Téh, Tétéh moal ngilu taun baruan di villa?" (Oh iya Téh, Tétéh gak ikut tahun baruan di villa?), diapun menjawab dengan sangat sederhana sekali "Moal ah, A" (Enggak ah, A), belum sempat aku bertanya kembali sama dia, tiba-tiba saja Orang Tuanya melemparkan pertanyaan untuk dia "Kunaon moal ngilu Téh?, émang rék aya acara lain?" (Kenapa gak ikut Téh?, emang mau ada acara bukan?), lalu Orang Tuanya pun kembali mengeluarkan sebuah kalimat yang ditujukan untukku "Émang hésé budak étamah Dri, geus antep wé kumaha karep" (Memang susah anak itumah Dri, biarin aja gimana dia), Aku sih cuma membalas kalimat itu dengan senyum tipis karena memang ya mau gimana lagi toh dia orangnya kaya gitu kan.
Tapi disaat itu Aku memiliki asumsi kenapa dia tidak mau ikut tahun baruan dengan kami karena mungkin sudah ada janji mau tahun baruan dengan tunangannya atau dengan teman-teman kerjanya, walaupun dia tidak berani jujur kepada Orang Tuanya karena mungkin malu soalnya ada banyak orang juga pada saat itu. Atau ada alasan lain juga sampai-sampai dia tidak mau berkata jujur terhadap Orang Tuanya. Ya sudahlah itukan hak dia dan Akupun tak memperdulikan hal tersebut, begitulah kira-kira apa yang ada dikepalaku saat itu.
Waktu semakin berlalu, tak terasa obrolan kitapun sudah mencapai akhir dan sudah menghasilkan kesepakatan yang mufakat. Diapun masih berada dihadapanku, melihat dia bertahan cukup lama berada diantara kami menurutku itu sesuatu hal yang sangat langka, walaupun dia berada disana hanya sekedar pemanis saja karena tak banyak mengeluarkan suara.
Setelah forum Aku tutup, kitapun segera makan nasi goreng yang sebelumnya sudah dipesan Orang Tuanya ketika pembahasan sudah mau mencapai akhir. Sekali lagi kejadian langka terjadi pada saat itu, dia mau ikut makan bareng kami semua yang dimana sebelumnya dia tidak pernah mau dan lebih memilih makan di kamarnya atau ditangga dekat dapur. Gara-gara kejadian itu, muncul banyak sekali pertanyaan-petanyaan dikepalaku tentang perilaku dia malam itu, namun Aku tak berani mengungkapkannya karena menurutku itu sangat tidak penting buat dia dan orang-orang yang ada saat itu.
Malam semakin larut, sesi makan-makan nasi gorengpun telah selesai, namun dia masih tetap bertahan tepat dihadapanku. Jujur saat itu Aku sangat tidak berani menatap wajahnya berlama-lama, entah karena apa Aku jadi seperti itu, Akupun tak tahu.
Sekitar pukul 23.15, ditengah-tengah obrolan santai kami, tiba-tiba saja dia terbangun dari duduknya sambil berkata "Tidur ah, ngantuk", sontak kami semua menghentikan obrolan dan memandang ke arah dia yang menurut kami mengejutkan. Ketika suasana hening itu spontan saja keluar kalimat dari mulutku "Enya sarékeun Téh bisi isukan kabeurangan" (Iya sudah tidur saja Téh takut besok kesiangan), diapun menjawab "Iya A, makasih" sambil melemparkan sebuah senyuman yang manis dan berlalu masuk menuju kamarnya yang tepat berada disebelahnya itu.
Tak terasa waktu sudah hampir berada dipertengahan malam, Aku dan yang lainpun segera bersiap-siap untuk segera undur diri dari rumahnya tersebut. Setelah saling berpamitan dan bersalaman satu sama lain, seperti biasa akupun menuju parkiran dan mengambil motorku lalu tancap gas menuju rumahku untuk beristirahat.
...Bersambung...
Komentar
Posting Komentar