ARUNIKA V
Arunika, begitu Aku menyebutnya. Dia merupakan sesosok Wanita berparas cantik dan sangat misterius yang berhasil membuatku jatuh hati, dia juga memiliki kehidupan yang unik.
Mari kita lanjutkan lagi ceritanya.
Berminggu-minggu telah dilewati setelah kejadian unik dirumahnya tersebut, kini sudah tiba dipenghujung bulan Desember, waktu yang dinantikan hampir semua orang karena akan menyambut malam pergantian tahun, dari tahun yang lama menuju tahun yang baru.
Hari itu langit sedang syahdu-syahdunya, karena sudah menurunkan hujannya dari pagi hari yang membuat sebagian orang seperti tak tega untuk meninggalkan selimut yang membungkus sebagian tubuh hingga membuat malas untuk bergerak walau hanya untuk beranjak dari tempat tidur. Akupun merasakan demikian, dingin yang merasuk keseluruh tubuh hingga menusuk kedalam tulang-tulangku yang ringkih ini terus memaksa Aku agar tak beranjak dari dalam selimut, namun waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 12.30, dengan sedikit sangat terpaksa Akupun terbangun dan segera bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan seluruh badan, Akupun kembali ke kamar untuk segera mengenakan pakaian lalu segera mengeluarkan motor dari kandangnya dan bergegas memanaskan mesinnya, tak lupa juga memakai jas hujan karena memang keadaan masih turun hujan.
Setelah semuanya selesai, Aku segera tancap gas motorku untuk menuju rumahnya. Beberapa menit Aku diperjalanan, akhirnya tiba juga didepan rumahnya, Akupun segera menaruh motor ditempat biasa Aku dan yang lain menaruhnya yaitu tepat dibelakang rumahnya. Dari parkiran Aku berjalan menuju depan rumahnya lalu berucap salam sebagaimana yang biasa Aku lakukan ketika datang ke rumah orang lain, ketika pintu dibuka ternyata dirumahnya belum ada siapa-siapa, hanya ada adiknya nomor dua saja (Itu yang terlihat). Akupun memutuskan untuk menunggu didepan rumahnya saja walaupun adiknya meminta Aku untuk menunggu didalam rumahnya, setelah kami berbincang sebentar akhirnya adiknyapun kembali masuk kedalam dan Akupun duduk dikursi yang memang saat itu sudah tersedia didepan rumahnya tersebut.
Aku dan adik keduanya itu memang akrab, dari awal kita kenalpun sudah sering ngobrol dan bercanda, bahkan kadang sering sharing masalah pekerjaan juga atau hal-hal yang kita senangi.
Ketika Aku sedang asik duduk dan menikmati hisapan demi hisapan tembakau, keluarlah dia dari dalam rumahnya sambil membawa sebuah gelas. Aku kira gelas itu memang sengaja dia bawa untuk dia minum, tapi ternyata gelas yang ada ditangannya itu berisi kopi panas yang sengaja dibuatkan untuk Aku. Sambil menyerahkan gelas ditangannya itu dia berucap "Kopina A" (Kopinya A), Akupun segera menimpalinya "Oh iya, hatut nuhun Téh", dan diapun berlalu kembali ke dalam rumahnya.
Aku tak tahu siapa yang membuatkan kopi itu, tapi Aku yakin bukan dia yang membuatnya karena selama ini belum pernah melihat dia membuat kopi apalagi kopi hitam.
Waktu terus berlalu, sambil menikmati kopi dan hujan ditemani beberapa batang rokok didepan rumahnya Aku terus memikirkan siapa yang membuat kopi itu padahal Aku yakin bukan dia, tak lama dari situ keluarlah adiknya nomor dua tersebut sambil membawa beberapa cemilan dan duduk tepat dihadapanku, Kamipun asik ngobrol ngalor-ngidul sambil menyantap cemilan yang tersedia lalu sesekali menyelipkan tawa diantara obrolan tersebut.
Ditengah-tengah obrolan yang asik antara Aku dengan adiknya, tiba-tiba dia muncul dari dalam rumah namun hanya berdiri saja dibibir pintu dengan wajah datar tanpa ekspresi sedikitpun, lumayan lama dia berdiri disana hingga akhirnya Aku berinisiatif untuk menyapa dia "Duduk atuh Téh ulah nangtung waé didinya jiga gapura" (Duduk Téh jangan berdiri saja disitu udah kaya gerbang), sambil sedikit Aku bumbui senyuman, justru adiknya yang tertawa kencang sekali. Tujuanku menyapa ya tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mencairkan suasana dan sekalian mengajak dia untuk ikut ngobrol bersama kami daripada hanya diam saja dimulut pintu, walau Aku tahu itu hal yang sangat sulit, tapi ternyata setelah sapaan Aku itu dia bergerak agak maju sedikit lalu duduk tepat disamping Aku.
Akhirnya kamipun duduk bertiga dan ngobrol banyak hal saat itu, walaupun lebih banyak Aku dan adiknya yang ngobrol dan Akupun tak heran karena sudah biasa dengan dia seperti itu, tapi setidaknya dia bisa duduk dan kaki dia tidak pegal-pegal akibat berdiri terus dimulut pintu.
Sedang asik-asiknya ngobrol bertiga didepan rumah dia, tibalah Orang Tuanya yang baru saja pulang belanja untuk persiapan malam nanti, Aku dan adiknya segera membantu mengambil beberapa barang belanjaan yang disimpan didekat pintu gerbang, sedangkan dia beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan masuk kedalam rumah. Aku sempat kesal sih melihat kelakuan dia seperti itu, tapi mau gimana lagi dan Aku gak bisa berbuat apa-apa sebab Orang Tuanya pun tak berkata apa-apa atas sikapnya yang seperti itu.
Setelah Aku dan adiknya yang nomor dua itu membereskan barang belanjaan, kami kembali duduk didepan rumahnya tapi untuk kali ini dia sudah hilang dari pandangannku. Tak lama berselang Orang Tuanya ikut duduk bersama kami dan berbincang-bincang seputar keadaan saat berbelanja tadi dipasar.
Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 15.40 atau ba'da Ashar, beberapa teman kamipun tiba dirumah dia dalam keadaan basah karena memang cuaca masih hujan dan lumayan deras. Setelah mereka melepas jas hujan dan lain-lain, lalu mereka bergabung dengan kami untuk ikut berbincang-bincang, Aku berinisiatif masuk kedalam rumahnya dan menuju ke dapur untuk membuatkan kopi buat teman-teman yang baru datang tersebut, tapi tidak sekonyong-konyong langsung masuk sih sebenarnya Aku izin dulu sama Orang Tuanya untuk membuatkan kopi buat teman kami yang baru datang.
Ketika Aku menuju dapur, ternyata ada dia yang sedang duduk ditangga dekat dapur sambil memakan sesuatu, karena memang jalannya terhalang Akupun mau tidak mau harus menyapa dia kembali walaupun kesempatan untuk dijawab sama dia itu 50:50, setelah Aku mengucapkan kalimat "Maaf, Téh", dan diapun beranjak dari tangga tenpat duduk dia tadi tanpa sepatah katapun, lalu bergegas menuju ke kamarnya. Saat itu sempat terlintas sebuah pertanyaan dalam kepalaku "Kunaon sih budak téh, keur meunang sugan?" (Kenapa sih ini anak, lagi dapet apa ya?), padahal Aku sadar pertanyaan itu tak perlu muncul dalam kepalaku karena sudah tahu dia itu seperti apa tapi yasudahlah itu sudah terjadi dan pertanyaan itu sudah muncul dalam kepalaku.
Airpun sudah mendidih dan kopipun segera Aku seduh, lalu Aku bawa kedepan rumahnya agar segera bisa cepat dinikmati oleh teman-teman Aku yang baru datang tadi. Sambil menikmati kopi dan beberapa cemilan kamipun melanjutkan percakapan, tidak lama dari situ tibalah kembali beberapa kawan kami yang lain yang memang sudah ditunggu, masih sama seperti yang sebelumnya, mereka tiba dalam keadaan basah juga karena menerjang hujan dari rumahnya menuju rumah dia yang jaraknya lumayan jauh.
Aku menawarkan kopi ke teman-teman yang baru tiba tersebut, tapi mereka lebih memilih meminta air putih hangat saja karena baru beres ngopi juga dirumah katanya. Air putih hangat sudah tersedia dan kami melanjutkan obrolan, tapi kali ini tanpa ada adiknya yang nomor dua yang sedari tadi siang menemani Aku ngobrol didepan dikarenakan dia mau mandi katanyanya jadi setelah membuatkan air putih hangat tadi dia langsung masuk lagi ke dalam.
Hari sudah mulai senja, tapi hujan masih saja belum reda. Kami memutuskan untuk segera berangkat menuju villa milik Orang Tuanya, karena jika menunggu hujan reda entah sampai kapan jadi terpaksa kami berangkan dengan keadaan hujan-hujanan, sementara untuk bahan-bahan yang sudah dibeli tadi untuk keperluan nanti malam tahun baruan diangkut menggunakan mobil bersama Orang Tuanya.
Setelah Aku dan teman yang lain tiba di villa tersebut, kami langsung bergegas membenahi area yang mau kami pakai nanti malam. Tempatpun sudah rapi dan bersih, lalu kami menuju ketempat yang biasa kami pakai untuk berkumpul di area villa tersebut.
Singkat cerita, waktupun sudah menunjukkan sekitar pukul 22.00, Aku dan beberapa teman menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak. Tak lama terdengar suara motor datang menuju parkiran villa yang kami tempati untuk merayakan malam pergantian tahun, Aku sempat sejenak memalingkan pandangan ke arah parkiran tersebut hanya untuk memastikan siapa yang tiba di villa waktu itu tapi karena jarak pandang yang terbatas dan pencahayaan yang kurang jadi tidak begitu jelas siapa yang tiba pada saat itu.
Setelah beberapa saat karena jarak sudah semakin dekat, barulah terlihat siapa sosok yang baru datang tersebut yaitu ialah dia. Dengan raut wajah yanh sedikit lusuh, tertekuk ke bawah, dia berjalan gontai dari arah parkiran menuju villa, Aku tak menyangka kalau yang datang itu adalah dia, karena beberapa waktu sebelumnya sempat ditanya mau ikut memperingati malam pergantian tahun di villa milik Orang Tuanya atau tidak, dan ternyata jawaban dia tidak sesuai dengan apa yang sudah diprediksi, dia menjawab "Moal milu ah, rék aya acara" (Gak ikut ah, mau ada acara". Setelah dia tiba ditempat kami yang sedang mempersiapkan segala sesuatunya, Orang Tuanya pun bertanya "Teu jadi mangkat Téh?" (Gak jadi berangkat Téh?", diapun menjawab dengan sangat singkat dan sederhana sekali "Enggak".
Waktu terus berlalu, dan malampun sudah mendekati pergantian tahun, Posisiku saat itu sedang membakar jagung sendirian, sementara yang lain sibuk menyiapkan santapan lainnya. Ketika aku sedang asik membakar jagung, tiba-tiba saja dia datang menghampiriku tepat disamping kananku sambil mengeluarkan kalimat "A, mau dibantuin gak?", Akupun tanpa basa basi langsung menjawab "Oh, dengan senang hati Téh" sambil melemparkan sedikit senyuman ke arah wajahnya yang manis itu. Kami berdua asik membakar jagung sambil berbincang-bincang tentang berbagai hal, ini kali pertama Aku dan dia ngobrol begitu panjang dan tanpa rasa canggung bahkan tanpa rasa heran dalam pikiranku sedikitpun, semua terjadi mengalir begitu alami sampai-sampai kami tak sadar sedang diperhatikan oleh beberapa teman. Bahkan ketika salah satu temanku menghampiri disebelah kirikupun Aku tak sadar, andai saja jika dia tidak berkata sepatah kata saja mungkin Aku takkan sadar ada orang disebelah kiri Aku karena saking asiknya Aku ngobrol dengan dia.
Sebuah kata yang keluar dari mulut temanku yaitu "Asik amat téh ngobrol duaan nepi poho kanu lain" (Asik amat ngobrol berduaan sampai lupa dengan yang lain) sambil sedikit tersenyum, Aku dan diapun langsung terkejut dan menghentikan obrolan kami berdua, lalu tiba-tiba saja dia terbangun dari tempat duduknya dan berjalan kembali ke tempat duduk asal ketika dia baru saja tiba di villa tersebut tadi.
Malam pergantian tahunpun tiba, kami semua bersukaria menyambut tahun yang baru dengan berbagai macam harapan untuk kedepannya, tak lupa dia juga memiliki perasaan yang sama seperti Aku dan yang lainnya dan tentu saja dengan raut wajah yang sangat bahagia. Tak terasa malam terus berlalu, Aku dan yang lain masih asik bersendau gurau seperti biasa, sementara dia asik sendiri dengan layar handphonenya entah apa yang sedang dia lihat, Aku hanya bisa berasumsi bahwa dia sedang asik chatting dengan tunangannya hingga lupa ada kami didekat dia saat itu. Akupun segera mengalihkan pikiran itu dan kembali bersenang-senang dengan yang lain.
Sekira pukul 01.15, dia izin pamit mundur dari villa tersebut karena sudah merasakan kantuk yang lumayan berat, tak lupa kedua Orang Tua dan kedua adiknyapun itu melontarkan kalimat yang sama. Setelah mereka sekeluarga berlalu dari villa tersebut, Aku dan beberapa teman melanjutkan percakapan yamg sempat tertunda sampai kira-kira pukul 02.00, rasa ngantukpun menyerangku dan beberapa teman, Aku memutuskan untuk pulang dari villa tersebut dan beberapa teman yang ikut denganku untuk meninggalkan villa itu, sementara ada beberapa teman yang menginap di villa karena memang jarak rumahnya yang lumayan jauh.
Aku dan beberapa teman yang lain segera berlalu dari villa itu untuk segera menuju ke rumah masing-masing.
...Bersambung...
Komentar
Posting Komentar